30/04/2015

Bidaah atau kita yang jahil?

Mereka yang singkat ilmu di dalam pengajian hadith ;

1) Melihat hadith dhaif samataraf dengan hadith palsu dan lebih suka menggunakan akal berbanding hadith dhaif yang lebih disukai oleh para ulama dalam beramal.

2) Membataskan kesahihan hadith kepada Al-Albani dan beberapa orang tokoh mereka yang tidak sampai kepada kedudukan muhaddith apalagi Al-Hafiz di dalam bidang hadith.

3) Meninggalkan riwayat Imam-Imam hadith yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadith mereka beserta sanad mereka sendiri kerana menganggap hadith itu palsu.

4) Membataskan kefahaman hadith kepada maksud zahir tanpa merujuk kepada fiqhul hadith.

5) Tidak dapat membezakan di antara sahih makna hadith dan dhaif riwayat. Mereka membuang hadith yang lemah riwayat sekalipun maknanya sahih.

6) Membataskan hadith sahih hanya kepada kitab hadith Bukhari dan Muslim sahaja itupun selepas disaring mengikut kehendak mereka.

7) Tidak dapat membezakan hadith yang digunapakai di dalam menetapkan hukum hakam dan yang digunapakai di dalam fadhail, targhib dan tarhib oleh para ulama'.

8) Menganggap Imam Syafie R.A bukan ahlul hadith sedangkan beliau digelar sebagai Ansorussunnah pada zamannya.

9) Mengambil hukum fiqh terus daripada hadith tanpa merujuk kepada perbahasan ulama' mazahib dan kaedah-kaedah syara' yang ditetapkan oleh para ulama' bersumberkan Al-Quran dan Al-Hadith.

10) Meninggalkan sanad dirayah hadith yang diambil daripada dada-dada para ulama' muktabar.

Gambar adalah sebahagian kecil daripada puluhan ribu kitab-kitab berkaitan dengan ilmu hadith yang ada di dalam khazanah Ilmu Islam.

Mohd Al-Amin B Daud Al-Azhari













21/04/2015

PHD Hadith VS kitab-kitab Hadith


سم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه واتبع هداه أما بعد 

Mereka yang hanya melihat dua kitab hadith Bukhari dan Muslim sahaja sebagai kitab hadith sahih merupakan mereka yang sempit ilmunya.

Sebelum dua Imam ini para ulama' mazahib mempunya hadith dan sanad-sanad mereka sendiri. Mereka mengambil daripada generasi sebelumnya.

Dua Imam Bukhari dan Muslim menyambung kejuhudan mereka di dalam meriwayatkan hadith daripada generasi sebelumnya termasuk Imam-Imam Mazhab seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafie dan Imam Ahmad Bin Hanbal.

Di antara kitab-kitab hadith yang bernilai di dalam Islam ialah ;

1) Sahih Bukhari, himpunan Imam Bukhari (m. 870), mengandungi 7275 ahadith
2) Sahih Muslim, himpunan Imam Muslim (m. 875), mengandungi 9200 ahadith
3) Sunan al-Sughra, himpunan Imam Nasa'i (m. 915)
4) Sunan Abu Daud, himpunan Imam Abu Daud (m. 888)
5) Jami' at-Tirmizi, himpunan Imam Tirmidzi (m. 892)
6) Sunan Ibnu Majah, himpunan Imam Ibnu Majah (m. 887)

Selain 6 kitab ini yang dinamakan sebagai الكتب الستة atau الصحاح الستة terdapat kitab hadith yang lain yang masyhur di sisi kita iaitu ;

1-al-Muwatta’
2-Musnad Ahmad
3-Musnad al-Syafi`e
4-Sahih Ibn Khuzaimah
5-Mustadrak al-Hakim
6-Sunan al-Daruqutni
7-Jami’ al-Darimi
8- Muntaqa Ibn al-Jarud
9-Sahih Ibn Hibban
10-Mustakhraj Abi Awanah
Berikut adalah 29 jenis kitab hadith ;
1) Jami’/ jawami’
2) Sunan/ ahkam
3) Mathani/ musnad
4) Ma’ajim/ mu’jam
5) Masyikhat
6) Ajza’/ rasail
7) Arbainat
8] Afrad dan Gharaaib
9) Mustadrak
10) Mustakhraj
11) ‘ilal
12) Atraf
13) Tarajim
14) Ta’aliq
15) Taghrib wa tarhib
16) Mursalsalat
17) Tsulasiyyat
18) Al-amali
19) Zawaid
20) Al-Mukhtasarat
21) Takharij
22) Syarhul atsar
23) Asbab nuzul hadis
24) At-tartib
25) At-Ta’liq
26) Al-Mawdhu`at
27) Al-ma’thurat
28) an-Nasikh wal Mansukh
29) Mutasyabih/ Musykil hadis

Setiap kategori kitab hadith di atas mempunyai kitab-kitab yang sangat banyak jumlahnya seperti yang disebut oleh Al-Kittani dalam kitab beliau Al-Risalah Al-Mustatharrifah bahawa terdapat hampir 82 kitab yang ditulis dalam method المسانيد sahaja. Belum lagi jenis-jenis yang lain.

Saya tertanya-tanya bagaimana mereka yang berkelulusan PHD dalam bidang hadith pada hari ini untuk tempoh setahun dua di Universiti tanpa sanad ilmu dan guru yang jelas, begitu yakin untuk menyatakan sesuatu hadith itu palsu atau tidak.

Seolah-olah mereka telah menguasai dan menghafal semua kitab hadith dan mengatakan dengan penuh yakin bahawa sesuatu hadith itu tiada riwayat.
Kalaupun tiada di dalam Sahih Bukhari dan Muslim apakah tidak ada di dalam kitab-kitab hadith yang lain?

Hari ini ramai yang berani kerana kejahilan. Kalaulah mereka sedar, kedudukan ilmu mereka sebenarnya sangat jauh daripada para ulama' terdahulu, sudah pasti mereka lebih suka untuk berdiam diri daripada berkata-kata.

Semoga Allah Ta'ala memelihara kita daripada golongan yang pendek akal mereka, panjang angan-angan bahkan Al-Quran dan Al-Hadith yang keluar daripada bibir mereka tidak sampai ke hati-hati mereka.

والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب
Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

07/04/2015

WAHHABI MENOLAK KETURUNAN NABI SAW ( AHLUL BAIT)

KETIKA Thahir, putra Nabi Saw dari Khadijah lahir dan terus meninggal dunia, Amr bin Ash dan Hakam bin Ash sangat bergembira sambil mengejek Nabi Saw dengan sebutan Al-Abtar, orang yang terputus keturunannya.

Ejekan mereka tersebar di kalangan kaum kafir Quraisy dan hal ini membuat Nabi Saw dan isteri tercintanya, Khadijah semakin berduka. Bagaimana tidak, tidak lama setelah kedua insan mulia ini kehilangan seorang anak laki-lakinya, dua manusia berhati Iblis ini justru menyebarkan penghinaan terhadap Nabi Saw dengan sebutan yang sangat menyakitkan : Al-Abtar!

Namun Allah Swt tidak membiarkan kedua manusia (Rasul Saw & Khadijah as) yang dicintai-Nya ini terus dilarut duka. Allah Yang Maha Pemurah menurunkan sebuah surah yang diturunkan khusus untuk menghibur keduanya : Surah Al-Kautsar!

Tahukah Anda apakah Al-Kautsar itu? Apa isi surah ini sehingga Nabi Saw serta Sayyidah Khadijah merasa terhibur karenanya?

APAKAH AL-KAUTSAR ITU?

AL-KAUTSAR secara literal bermakna : Yang Berlimpah (abundance). Dengan wafatnya putra Rasulullah Saw dari Khadijah as tersebut, Allah SwT menghibur keduanya dengan Al-Kautsar, yaitu Sayyidah Fathimah!

Melalui Sayyidah Fathimah as inilah keturunan Muhammad Saw berlanjut berlimpah-ruah sampai akhir zaman. [3]

Fakhrur Razi mengatakan bahwa, “Surah (Al-Kautsar) ini diturunkan untuk membantah pernyataan seorang kafir yang mencela Nabi Saw karena tidak mempunyai anak laki-laki, menjadi jelas bahwa makna yang diberikan di sini adalah bahwa Allah Swt memberi Nabi Saw keturunan yang akan abadi. Kita harus mengingat bahwa banyak pembantaian telah dilakukan terhadap keluarga Nabi, namun dunia masih dipenuhi oleh mereka; sementara Bani (keturunan) Umayyah punah kecuali beberapa orang yang tak berharga…”

Al-Kautsar juga berarti sebuah sumber mata air atau telaga di Surga yang khusus Allah anugerahkan kepada Rasul Saw. Kadang-kadang Rasulullah Saw menyebut telaga karunianya ini dengan sebuatan : al-Haudh.

Diriwayatkan oleh Abu Bisyr di dalam Shahih Bukhari bahwa Said bin Jubair mengatakan bahwa Ibn Abbas menceritakan tentang al-Kautsar : “Al-Kautsar itu adalah “anugerah” yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Saw.”. Lalu Abu Bisyr berkata kepada Said, “Tapi banyak orang mengatakan bahwa al-Kautsar itu adalah salah satu sungai (mata air) di surga.” Said menjawab, “Mata air surga itu adalah salah satu anugerah yang berlimpah ruah yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Saw.”

Masih di dalam Shahih Bukhari, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw meminta seorang Anshar agar mengumpulkan mereka (para sahabat Nabi) untuk berkumpul di sebuah tenda lalu beliau pun bersabda, “Bersabarlah sampai kalian menjumpai Allah dan Rasul-Nya dan aku akan menunggu kalian di Telaga (Al-Kautsar)”

Dan yang paling menarik, masih di dalam kitab yang sama – Shahih Bukhari – Anas bin Malik menambahkan kalimat di atas dengan : “Namun kami tidak bersabar”

NABI SAW TERPUTUS KETURUNANNYA?

Siapa pun yang menganggap Nabi Saw tidak memiliki keturunan dalam arti “silsilah beliau terputus karena beliau tidak memiliki seorang pun anak laki-laki” maka berarti ia tidak berbeda dengan kaum kafir Quraisy yang telah menghina Nabi Saw dengan sebutan al-Abtar. Allah SwT menyebut orang-orang yang berpikir bahwa Rasulullah Saw telah terputus keturunannya sebagai orang-orang yang membenci Rasulullah Saw, dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad) dialah yang terputus (keturunannya)” (Al-Quran Surah Al-Kautsar:3)

Apakah Anda juga berpikir bahwa Nabi Saw tidak memiliki keturunan yang berlanjut? Saya berlindung kepada Allah SwT dari pemikiran seperti itu!
Al-Ash bin Wa’il, Abu Jahal dan Abu Lahab yang ketika mendengar putra Rasulullah saw, Al-Qasim wafat dalam usia balita, mereka mengejek Rasulullah sambil menyebarkan kabar bahwa “Muhammad adalah seorang al-abtar..!” (lelaki yang terputus keturunannya). Mendengar hal itu Rasulullah saw sangat bersedih hati. Maka turunlah ayat:
“Inna a’thaina kal kautsar. Fa shalli li Rabbika wan har. Innasya niaka huwal abtar.”
“Sungguh (hai Muhammad), Kami anugerahkan kepadamu “nikmat yang banyak”. Maka hendaklah engkau dirikan shalat semata-mata karena Tuhanmu., dan sembelihlah (ternak kurban). Sesungguhnya pembencimu itulah orang yang abtar (terputus keturunannya),
Sayyid Thabathaba’i, didlm Tafsir al Mizannya mengatakan bahwa makna “al-Kautsar” adalah “keturunan yang banyak” karena jika al-Abtar dimaknai “nikmat yang banyak”, maka maknanya menjadi tidak relevan dg asbabun nuzul atau latar belakang sebab turunnya ayat tsb.

BENARKAH PEREMPUAN TIDAK DAPAT MEMBERIKAN GARIS KETURUNAN?
Benarkah perempuan tidak dapat memberikan garis keturunan? Secara umum ya, tetapi secara khusus, Allah Swt memberikan keistimewaan kepada perempuan2 tertentu, misalnya Maryam as, ibunda Nabi Isa as.
“.. Dan dari keturunannya (Nabi Ibrahim a.s) ialah Daud, Sulaiman, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami beri balasan kepada ornag-orang yang berbuat baik. Kemudian (menyusul) Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.” (Quran Surah Al-An’am : ayat 84-85)

Ayat di atas memasukkan Isa putera Maryam sebagai putera keturunan Nabi Ibrahim as, padahal kita mengetahui bahwa Nabi Isa as tidak memiliki ayah.

Dan pada ayat Mubahalah :
“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS Ali Imran ayat 61)
Di dalam Shahih Muslim, kitab al-Fadhail, bab min fadhail ‘Ali bin Abi Thalib, Juz. 2 hal. 360, Cet. Isa al-Halaby, disebutkan bahwa pada saat itu yang dibawa serta oleh Rasulullah Saw adalah : Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husain, padahal ayat di atas tidak menyebutkan cucu2 Nabi Saw, tapi “anak-anak kamu”. [7b]
Dan simak hadits di bawah ini dengan sungguh-sungguh :

“…Setiap anak memiliki penisbatan keturunan melalui ayahnya (‘ishbah) , kecuali kedua putra Fatimah (Hasan dan Husain) . Karena sesungguhnya akulah wali dan ishbah untuk keduanya!” (Hadits Riwayat al-Hakim dari Jabir)

Di dalam Shahih Bukhari pun diriwayatkan bahwa suatu waktu Rasulullah Saw membawa al-Hasan (putra Fatimah) lalu beliau Saw bersabda, “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang Sayyid!” (Shahih Bukhari Jil. 4, Fadhail Al-Shahabah, Bab Manaqib al-Hasan, hadits no. 3746. Dalam edisi bahasa Inggris hadits no. 823)

Dan memang di dalam kitab-kitab hadits  mahupun sejarah telah tercatat bahwa Rasulullah saw senantiasa memanggil putra-putra Fatimah dengan panggilan: waladiy (anakku).

Jadi sekali lagi, jika sesorang berpikir bahwa keturunan Rasulullah Saw tidak bersambung, maka orang itu sama dengan para pembenci Rasul Saw! Saya berlindung dari yang demikian itu.