07/04/2015

WAHHABI MENOLAK KETURUNAN NABI SAW ( AHLUL BAIT)

KETIKA Thahir, putra Nabi Saw dari Khadijah lahir dan terus meninggal dunia, Amr bin Ash dan Hakam bin Ash sangat bergembira sambil mengejek Nabi Saw dengan sebutan Al-Abtar, orang yang terputus keturunannya.

Ejekan mereka tersebar di kalangan kaum kafir Quraisy dan hal ini membuat Nabi Saw dan isteri tercintanya, Khadijah semakin berduka. Bagaimana tidak, tidak lama setelah kedua insan mulia ini kehilangan seorang anak laki-lakinya, dua manusia berhati Iblis ini justru menyebarkan penghinaan terhadap Nabi Saw dengan sebutan yang sangat menyakitkan : Al-Abtar!

Namun Allah Swt tidak membiarkan kedua manusia (Rasul Saw & Khadijah as) yang dicintai-Nya ini terus dilarut duka. Allah Yang Maha Pemurah menurunkan sebuah surah yang diturunkan khusus untuk menghibur keduanya : Surah Al-Kautsar!

Tahukah Anda apakah Al-Kautsar itu? Apa isi surah ini sehingga Nabi Saw serta Sayyidah Khadijah merasa terhibur karenanya?

APAKAH AL-KAUTSAR ITU?

AL-KAUTSAR secara literal bermakna : Yang Berlimpah (abundance). Dengan wafatnya putra Rasulullah Saw dari Khadijah as tersebut, Allah SwT menghibur keduanya dengan Al-Kautsar, yaitu Sayyidah Fathimah!

Melalui Sayyidah Fathimah as inilah keturunan Muhammad Saw berlanjut berlimpah-ruah sampai akhir zaman. [3]

Fakhrur Razi mengatakan bahwa, “Surah (Al-Kautsar) ini diturunkan untuk membantah pernyataan seorang kafir yang mencela Nabi Saw karena tidak mempunyai anak laki-laki, menjadi jelas bahwa makna yang diberikan di sini adalah bahwa Allah Swt memberi Nabi Saw keturunan yang akan abadi. Kita harus mengingat bahwa banyak pembantaian telah dilakukan terhadap keluarga Nabi, namun dunia masih dipenuhi oleh mereka; sementara Bani (keturunan) Umayyah punah kecuali beberapa orang yang tak berharga…”

Al-Kautsar juga berarti sebuah sumber mata air atau telaga di Surga yang khusus Allah anugerahkan kepada Rasul Saw. Kadang-kadang Rasulullah Saw menyebut telaga karunianya ini dengan sebuatan : al-Haudh.

Diriwayatkan oleh Abu Bisyr di dalam Shahih Bukhari bahwa Said bin Jubair mengatakan bahwa Ibn Abbas menceritakan tentang al-Kautsar : “Al-Kautsar itu adalah “anugerah” yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Saw.”. Lalu Abu Bisyr berkata kepada Said, “Tapi banyak orang mengatakan bahwa al-Kautsar itu adalah salah satu sungai (mata air) di surga.” Said menjawab, “Mata air surga itu adalah salah satu anugerah yang berlimpah ruah yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Saw.”

Masih di dalam Shahih Bukhari, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw meminta seorang Anshar agar mengumpulkan mereka (para sahabat Nabi) untuk berkumpul di sebuah tenda lalu beliau pun bersabda, “Bersabarlah sampai kalian menjumpai Allah dan Rasul-Nya dan aku akan menunggu kalian di Telaga (Al-Kautsar)”

Dan yang paling menarik, masih di dalam kitab yang sama – Shahih Bukhari – Anas bin Malik menambahkan kalimat di atas dengan : “Namun kami tidak bersabar”

NABI SAW TERPUTUS KETURUNANNYA?

Siapa pun yang menganggap Nabi Saw tidak memiliki keturunan dalam arti “silsilah beliau terputus karena beliau tidak memiliki seorang pun anak laki-laki” maka berarti ia tidak berbeda dengan kaum kafir Quraisy yang telah menghina Nabi Saw dengan sebutan al-Abtar. Allah SwT menyebut orang-orang yang berpikir bahwa Rasulullah Saw telah terputus keturunannya sebagai orang-orang yang membenci Rasulullah Saw, dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad) dialah yang terputus (keturunannya)” (Al-Quran Surah Al-Kautsar:3)

Apakah Anda juga berpikir bahwa Nabi Saw tidak memiliki keturunan yang berlanjut? Saya berlindung kepada Allah SwT dari pemikiran seperti itu!
Al-Ash bin Wa’il, Abu Jahal dan Abu Lahab yang ketika mendengar putra Rasulullah saw, Al-Qasim wafat dalam usia balita, mereka mengejek Rasulullah sambil menyebarkan kabar bahwa “Muhammad adalah seorang al-abtar..!” (lelaki yang terputus keturunannya). Mendengar hal itu Rasulullah saw sangat bersedih hati. Maka turunlah ayat:
“Inna a’thaina kal kautsar. Fa shalli li Rabbika wan har. Innasya niaka huwal abtar.”
“Sungguh (hai Muhammad), Kami anugerahkan kepadamu “nikmat yang banyak”. Maka hendaklah engkau dirikan shalat semata-mata karena Tuhanmu., dan sembelihlah (ternak kurban). Sesungguhnya pembencimu itulah orang yang abtar (terputus keturunannya),
Sayyid Thabathaba’i, didlm Tafsir al Mizannya mengatakan bahwa makna “al-Kautsar” adalah “keturunan yang banyak” karena jika al-Abtar dimaknai “nikmat yang banyak”, maka maknanya menjadi tidak relevan dg asbabun nuzul atau latar belakang sebab turunnya ayat tsb.

BENARKAH PEREMPUAN TIDAK DAPAT MEMBERIKAN GARIS KETURUNAN?
Benarkah perempuan tidak dapat memberikan garis keturunan? Secara umum ya, tetapi secara khusus, Allah Swt memberikan keistimewaan kepada perempuan2 tertentu, misalnya Maryam as, ibunda Nabi Isa as.
“.. Dan dari keturunannya (Nabi Ibrahim a.s) ialah Daud, Sulaiman, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami beri balasan kepada ornag-orang yang berbuat baik. Kemudian (menyusul) Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.” (Quran Surah Al-An’am : ayat 84-85)

Ayat di atas memasukkan Isa putera Maryam sebagai putera keturunan Nabi Ibrahim as, padahal kita mengetahui bahwa Nabi Isa as tidak memiliki ayah.

Dan pada ayat Mubahalah :
“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS Ali Imran ayat 61)
Di dalam Shahih Muslim, kitab al-Fadhail, bab min fadhail ‘Ali bin Abi Thalib, Juz. 2 hal. 360, Cet. Isa al-Halaby, disebutkan bahwa pada saat itu yang dibawa serta oleh Rasulullah Saw adalah : Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husain, padahal ayat di atas tidak menyebutkan cucu2 Nabi Saw, tapi “anak-anak kamu”. [7b]
Dan simak hadits di bawah ini dengan sungguh-sungguh :

“…Setiap anak memiliki penisbatan keturunan melalui ayahnya (‘ishbah) , kecuali kedua putra Fatimah (Hasan dan Husain) . Karena sesungguhnya akulah wali dan ishbah untuk keduanya!” (Hadits Riwayat al-Hakim dari Jabir)

Di dalam Shahih Bukhari pun diriwayatkan bahwa suatu waktu Rasulullah Saw membawa al-Hasan (putra Fatimah) lalu beliau Saw bersabda, “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang Sayyid!” (Shahih Bukhari Jil. 4, Fadhail Al-Shahabah, Bab Manaqib al-Hasan, hadits no. 3746. Dalam edisi bahasa Inggris hadits no. 823)

Dan memang di dalam kitab-kitab hadits  mahupun sejarah telah tercatat bahwa Rasulullah saw senantiasa memanggil putra-putra Fatimah dengan panggilan: waladiy (anakku).

Jadi sekali lagi, jika sesorang berpikir bahwa keturunan Rasulullah Saw tidak bersambung, maka orang itu sama dengan para pembenci Rasul Saw! Saya berlindung dari yang demikian itu.

14/12/2012

Kelebihan Selawat

Assalamualaikum..

Di hari Jumaat yang barakah ini, penghulu segala hari di mana tidak akan berlaku kecuali pada hari Jumaat marilah sama-sama kita memperbanyakkan berselawat ke atas junjungan Nabi SAW.

Firman Allah SWT ;

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu ke atas Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
(Surah al-Ahzaab, 33: 56)

Perhatikan firman Allah di atas bagaimana Allah memulakan dengan DiriNya yang Maha Agung dalam perintah selawat sedangkan di dalam perintah ibadah yang lain Allah tidak ada seumpamanya. Inilah yang menunjukkan betapa selawat ini sesuatu yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT.

Sabda Nabi Muhammad s.a.w. : "Barangsiapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah berselawat kepadanya sepuluh selawat dan Allah menghapus sepuluh kesalahan (dosa) dan mengangkat sepuluh darjat kepadanya." Riwayat Ahmad, Nasai dan Al Hakim.
Nabi s.a.w bersabda: “Orang yang lebih berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat ialah oarang yang lebih banyak selawatnya kepadaku.” (Ibn Mas’ud r.a)
Telah bersabda Junjungan Nabi s.a.w. : " Orang yang bakhil itu adalah orang yang ketika mana aku disebut di sisinya dia tidak mengucapkan sholawat ke atasku." Hadits diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi daripada Baginda 'Ali r.a. dan dihukumkannya sebagai hasan shohih.

Ibnu Al-Mulqan juga menyebut di dalam kitab “Al-Hadaiq” bahawa terdapat seorang pemuda yang sedang melakukan tawaf di Baitullah. Beliau hanya sibuk membaca selawat ke atas Rasulullah s.a.w.

Apabila ditanya adakah sesuatu yang menyebabkan ia asyik berselawat sahaja.
Pemuda itu menjawab, “Ya, ketika aku bersama ayahku keluar mengerjakan fardu Haji tiba-tiba ayahku jatuh sakit di sebuah rumah. Ayahku meninggal dunia dalam keadaan mukanya berubah menjadi hitam, kedua matanya berubah menjadi biru dan perutnya membuncit tinggi.”

Melihat keadaannya begitu aku menangis kesedihan dan berkata : “Dan sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepadaNyalah kita kembali. Ayahku meninggal dunia dalam keadaannya yang pelik.”
Apabila malam menjelma. aku merasa mengantuk dan aku (bermimpi) melihat Rasulullah s.a.w dengan pakaian serba putih dan berbau semerbak harum mewangi. Baginda menghampiri ayahku dan menyapu mukanya. Dengan serta merta aku lihat muka ayahku berubah menjadi terlalu putih melebihi putih susu!. Kemudiannya baginda menyapu pula perut ayahku yang membuncit itu lalu ia kembali seperti sediakala.

Apabila hendak beredar baginda berkata: “(Sesungguhnya ayahmu ialah seorang yang banyak melakukan maksiat dan dosa. Dia juga banyak berselawat ke atasku. Apabila berlaku perkara yang telah berlaku kepadanya itu, dia telah meminta bantuanku maka aku datang membantunya. Dan aku adalah pembantu kepada orang-orang yang banyak berselawat ke atasku semasa hidup di dunia).”

Al-Sheikh Abdul Kadir Al-Jelani Al-Hasani, Quddisa sirruhu menyatakan tentang kelebihan berselawat ke atas Nabi Muhammad s.a.w. di dalam kitabnya al-Safinah al-Qadiriyyah. Beliau meriwayatkan daripada Ibnu Farhun berkata: Berselawat kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu mempunyai empat puluh dua kelebihan. Hal ini tertulis di dalam kitabnya ‘Hadaiq al-Anwar’:-

1.       Melaksanakan perintah Allah.
2.       Bersamaan dengan selawat Allah kepada Rasulullah s.a.w.
3.       Bersamaan dengan selawat para malaikat.
4.       Mendapat ganjaran sepuluh kali selawat daripada Allah atas setiap kali selawat yang diucapkan (selawat daripada Allah bererti rahmat).
5.       Dikurniakan oleh Allah sepuluh darjat atas tiap-tiap satu selawat.
6.       Dituliskan oleh malaikat sepuluh kebaikan atas setiap selawat.
7.       Dihapuskan oleh Allah sepuluh kejahatan atas setiap selawat.
8.       Segala doa akan diperkenankan oleh Allah.
9.       Mendapat syafaat daripada Rasulullah s.a.w.
10.     Mendapat keampunan Allah serta akan ditutup segala keaiban.
11.     Allah akan menutupi segala dukacita.
12.     Dikurniakan maqam hampir kepada Rasulullah s.a.w.
13.     Mendapat darjat al-Sidq.
14.     Ditunaikan segala hajat.
15.     Salam sejahtera pada hari kiamat.
16.     Allah dan para malaikat akan berselawat ke atas individu yang berselawat.
17.     Mendapat khabar gembira daripada Allah dengan balasan syurga.
18.     Salam sejahtera pada huru-hara hari kiamat.
19.     Rasulullah s..a.w. akan menjawab secara langsung ke atas setiap selawat yang dibacakan.
20.     Mudah mengingat semula perkara-perkara yang lupa.
21.     Mendapat kedudukan yang baik pada hari kiamat serta tidak akan kecewa pada hari itu.
22.     Tidak akan merasai fakir.
23.     Terpelihara daripada dihinggapi sifat bakhil.
24.     Mendapat kesejahteraan daripada doa Rasulullah s.a.w. kepada yang berselawat.
25.     Selawat akan menjemput setiap pengucapanya ke jalan syurga.
26.     Menjauhkan seseorang itu daripada terlibat dalam majlis-majlis yang tidak disebut padanya nama Allah dan Rasul-Nya atau daripada majlis-majlis lagha.
27.     Berselawat menyempurnakan kalam pujian Allah apabila disebut (di dalam doa), maka akan disambut selepas itu dengan kalimah selawat ke atas Nabi Muhammad s.a.w.
28.     Selamat melintasi titian Sirat al-Mustaqim pada hari kiamat.
29.     Disambut oleh Allah pada hari kiamat dengan kata-kata pujian yang lunak.
30.     Mendapat balasan rahmat yang luas daripada Allah.
31.     Mendapat keberkatan daripada Allah.
32.     Mendapat kesempurnaan iman.
33.     Kasih dan cinta kepada Rasulullah s.a.w.
34.     Mendapat hidayah Allah dan dikurniakan hati yang sentiasa hidup mengingati Allah.
35.     Setiap selawat yang dibaca akan dibentangkan di hadapan Rasulullah s.a.w. secara langsung.
36.     Teguh pendirian dengan kebenaran.
37.     Berselawat bererti kita menggunakan sebahagian hak-hak Rasulullah s.a.w. ke atas diri kita. Di samping itu ianya dianggap sebagai mensyukuri nikmat Allah yang mengurniakan dan mengutuskan Rasulullah s.a.w. kepada kita.
38.     Berselawat juga bererti zikrullah, bersyukur serta mengikut segala nikmat yang dikurniakan oleh Allah.
39.     Berselawat bererti melengkapkan pengertian berdoa dan memohon kepada Allah, ke atas Rasulullah s.a.w. dan kepada diri sendiri.
40.     Antara kelebihan yang paling hebat kepada setiap individu ialah akan terjelma gambaran Rasulullah s.a.w. di dalam jiwanya.
41.     Dikurniakan oleh Allah maqam seorang Syeikh dan Murabbi.
42.     Mendapat kebahagiaan, ketenangan hidup didunia dan akhirat.


25/06/2010

Allah Wujud Tiada Bertempat..


Syeikh Muhammad Mutawalli as-Sya'rawi Rahimahullah seorang mufassir agung mensyarahkan ayat;

وهو الذي في السماء إله وفي اﻷرض إله – الزخرف:84


Maksudnya : Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi.

Tuhan di sini merujuk kepada Allah kerana ayat ini menggunakan ismul mausul ( الذي ). Isim mausul di dalam kaedah bahasa arab menunjukkan kepada ma'rifah iaitu Allah.


Beliau menyatakan di dalam tafsirannya tidak ada bagi Allah tempat kerana tempat itu ciptaannya. Tidak ada bagiNya tempat dan masa kerana keduanya makhluk (ciptaan Allah). Sila rujuk video di atas.


TAMBAHAN PENULIS.

Jika dikatakan Allah di langit maka bertentangan dengan ayat ini kerana Allah menyatakan di langit dan di bumi. Apakah Allah ada dua? Maka pandangan yang mendakwa Allah di langit atau di bumi atau di 'arasy semua terbatal. Oleh sebab itu ulama' ahlussunah mengkategorikan ayat sebegini sebagai ayat mutasyabihah. Kerana hakikatnya tiada bagi Allah tempat.


Allah tidak berhajat kepada makhluk tetapi makhluklah yang berhajat kepada Allah SWT. Inilah yang terkandung di dalam kalimah syahadah

لا اله إلا الله sepertimana yang dijelaskan oleh Imam as-Sanusi iaitu Abu Abdillah Muhammad Bin Yusuf as-Sanusi al-Hasani Rahimahullah (895H) pengarang kepada kitab akidah yang masyhur iaitu ummul barahin yang menjelaskan prinsip akidah ahlussunnah wal jamaah yang dinisbahkan kepada al-'Asyaairah wal Maturidiyyah. Kata beliau;


ويجمعُ معاني هذه العقائد كلها قول لا إله إلا الله محمد رسول الله إذ معنى الألوهية استغناء الاله عن كل ما سواه وافتقارُ كل ما عداه إليه

Maksudnya : Dikumpulkan makna akidah-akidah ini semuanya pada perkataan La ilaha illallah Muhammadurrasulullah kerana makna uluhiyyah ialah terkaya (tiada berhajat) Tuhan kepada yang lain daripadaNya dan berhajat segala sesuatu selainNya (Allah) kepadaNya.


Dijelaskan di dalam kitab al-'Aqaaid ad-Duriyyah syarah kepada matan as-Sanusiyyah oleh al-Ustaz al-Kamil as-Syeikh Muhammad al-Hashimi (salah seorang ulama' al-azhar as-Syarif) (m/s 22 dan 23) pada mensyarahkan makna sifat qiamuhu binafsih (tidak berhajat kepada yang lain) : dalil yang menetapkan qiamuhu Ta'ala binafsih dengan maksud tiada berhajat kepada tempat dan pencipta. Jika Allah berhajat kepada tempat (zat) maka jadilah Allah itu sifat kerana tidak berhajat kepada tempat itu kecuali sifat.


Pada hakikatnya prinsip akidah ahlussunnah sangat jelas iaitu Allah tidak bertempat. Kemudian datang syubuhah (keraguan) daripada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab membawa masuk fahaman mujassimah dan musyabbihah yang telah ditolak oleh ulama' ahlussunnah suatu ketika dulu.


Benarlah kat guru kami Dr. Abdul Manam Hafizohullah (pensyarah UNISZA dan khalifah thariqah al-qaadiriah wal naqsyabandiyyah wakil negeri Terengganu) bahawa jika kita ingin mencari jemaah muktazilah atau jabariyyah atau qadariyyah atau musyabbihah pada zaman ini mungkin sudah tidak ada tetapi jangan kita ingat akidah mereka tidak menyelinap masuk ke dalam akidah mereka yang mengaku ahlussunnah.


Begitulah yang kita lihat pada hari ini. Mereka yang mendabik dada sebagai ahlussunnah dan salaf telah terpengaruh dengan fahaman mujassimah dan musyabbihah. Mereka ini pada suatu masa dahulu golongan yang sangat membenci Abu Hassan al-'Asyaari kerana beliau (Imam al-'Asyaari) merupakan wira ahulussunnah yang menentang akidah yang sesat lagi menyesatkan kaum mujassimah atau musyabbihah.


Maka dengan kebenciaan itu, golongan mujassimah merubah kitab dan menfitnah Imam Abu Hassan al-'Asyaari Rahimahullahu Ta'aala yang telah diijmak (disepakati) oleh sekalian ulama' Islam zaman berzaman adalah tokoh yang menyusun prinsip akidah ahlussunnah wal jamaah sepertimana yang tersebut di dalam al-mabaadi' al-'Asyarah (prinsip yang 10) ilmu usluddin.


Ayuh kita lihat apa kata Syeikh Ibnu Hajar al-'Asqalani Rahimahullah dalam menjelaskan prinsip akidah ahlussunnah wal jama'ah.


وقال الحافظ ابن حجر العسقلاني في شرحه على صحيح البخاري(3): "أهل السنة فسروا التوحيد بنفي التشبيه والتعطيل "اهـ

Berkata al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalaani di dalam syarah al-Bukhari : Ahlu sunnah mereka itu berjalan di atas tauhid dengan menafikan tasybih (ada keserupaan Allah dgn makhluk iaitu akidah wahabi/mujassimah/musyabbihah) dan ta'thil (menafikan sifat bagi Allah iaitu akidah muktazilah).


Akhir-akhir ini ramai yang memfitnah Imamuna as-Syafie Radhiallahu Ta'ala 'Anhu kononnya berakidah Allah bertempat seperti mereka. Di sini saya nuqilkan kalam beliau yang disalin oleh saya sendiri daripada kitab yang asal. Bukan copy paste sepertimana yang dilakukan oleh golongan wahabi. Sebab itu kita melihat hujjah mereka di mana-mana sama sahaja berbeza dengan ahlussunnah di mana hujjah yang digunakan pelbagai dan kepelbagaian itu menunjukkan keluasan ilmu ulama'-ulama' kita.


Berkata al-Imam Syafie Rahimahullah di dalam kitab al-kaukabul azhar syarah al-fqhul akbar m/s 79 cetakan al-maktabah at-tijariyyah mustofa ahmad al-baz makkatul mukarramah. Kata beliau di bawah tajuk as-syarhu qaul Allah Ta'ala ar-Rahman 'ala al-'arsy istawa.


Ketahuilah ! Semoga Allah memberi hidayah kepada kamu sesungguhnya Allah 'Azza wajalla tidak harus atasnya kaifiyyah,kammiyah dan ainiyyah..dan dalil atas yg demikian itu sesungguhnya bagi yang tidak ada seumpama baginya tidak mumkin dikatakan padanya kaifa huwa (bagaimana dia) dan bagi yang tidak ada bilangan baginya dikatakan baginya kam huwa (berapa dia) dan bg yg tiada tempat dikatakan baginya aina kaana (di mana dia). dan di dlm kitab Allah yg mulia apa yg menunjukkan di atas tauhid dan menafikan at-tasybih (perumpamaan dengan makhluk) firman Allah Ta'ala : laisa kamislihi syaiun wahuwa as-samiul basir -as-Syura 11 iaitu menafikan tempat dan jihat (arah) dan nafi permulaan. Tamat kalam al-Imam as-Syafie Rahimahullah.


Semoga Allah memberikan ganjaran yang setimpal di atas pendustaan mereka terhadap al-Imam as-Syafie Rahimahullah.


Sahabat-sahabatku!


Akidah bukanlah suatu yang boleh dibuat main-main dan dipandang remeh kerana ia menentukan sah atau tidak amalan kita sepertimana firman Allah SWT ;


ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين

Maksudnya : Sesiapa yang memilih selain Islam sebagai agama maka tidak sesekali akan diterima daripadanya dan dia di akhirat tergolong daripada kalangan orang yang rugi. (ali-'Imran 85).


al-Imam Maalik Rahimahullah pernah menyatakan ;


لا تصح العبادة إلا بمعرفة المعبود

Tidak sah ibadah kecuali dengan mengenali siapa yang disembah.


Akidah merupakan penentu kepada amalan kita diterima oleh Allah SWT. Jika rosak akidah maka rosaklah amalan kita seumpama sebatang pokok yang mati akarnya nescaya akan matilah batang dan cabang-cabangnya.


Semoga Allah memelihara kita daripada akidah yang faasidah (rosak) dan tetap di atas akidah ahlussunah wal jamaah yang telah diitlaqkan (dinisbahkan) kepada al-'Asyaairah wal maaturidiyyah sepertimana perkataan al-Imam az-Zabidi ;


إذا أطلق اهل السنة فالمراد بهم اﻷشاعرة والماتردية

Apabila disebut ahlussunnah maka murad (maksud) dengan mereka (ahulusunnah) ialah al-'Asyaairah dan al-Maaturidiyah.